Wednesday, March 12, 2008

Posting apa ya. Bingung. Tapi pengen posting da. Oke ini aja. (Yang mana?) Makanya lanjutin bacanya sampai selesai wokeh? Hi8x...

Kejadian ini selalu terjadi pas mau solat berjamaah. Tau ga kalau salat berjamaah memiliki keutamaan dan pahala yang besar. Izinkan saya untuk mengutip salah satu hadist terkait dengan ini (Kalau salah tolong koreksi):
"Dari Ibnu Umar radhiallaahu anhuma , bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Shalat berjama'ah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian." (Muttafaq 'alaih)

Lantas kenapa kita terkadang selalu ogah-ogahan untuk menunaikan salat berjamaah? Apa lagi Isya dan Subuh. (Masalah satu)

Selain hal di atas, terkadang tat kala kita melakukan salat berjamaah satu hal yang agak susah untuk mengaturnya adalah Saf dalam salat! Karena diperlukan koordinasi dengan jemaah lainnya. Kalau engga? Ya jangan berharap saf itu rapat dan lurus. :)

Pernah suatu ketika, Imam telah mengingatkan jemaahnya untuk merapatkan dan meluruskan saf dalam salatnya. Tidak diingatkan pun seharusnya kita udah sadar diri kalau itu 'wajib' dilakukan oleh semua jemaah. Tapi ya wong jemaahnya hanya TAHU tapi TIDAK SADAR, ya susah. Saya yakin kalau jemaah di samping saya itu tahu kalau safnya harus lurus dan rapat. Tahu juga kalau di bawah sana ada 'batas' kaki untuk berpijak agar saf kita menjadi rapat dan lurus. Malah Jemaah disamping saya pun sempat melihat ke bawah dulu sebelum memulai salat. Tapi ko tetep 'bikin saf sendiri' ya? (a.k.a safna teu rapih). Lantas apa yang beliau lihat di bawah ketika sebelum mendirikan salat?

Diingatkan saja masih ga rapih, apa lagi kalau tidak diingatkan ya? Ini juga pernah terjadi lho, dan parahnya lagi pas Salat Ied. Whuaaaah. Safnya jadi kacau balau karena Imam lupa mengingatkan. Hi8x...

Ternyata, akan sangat susah seseorang melakukan sesuatu (apalagi tekait dengan pelaksanaan suatu sistem rumit) kalau hanya sekedar TAHU, tidak SADAR. SADAR dong saudara! :)

Wednesday, March 5, 2008

Sekarang bulan Maret. Angka 21 adalah angka sakral yang patut saya syukuri. Karena pada tanggal di bulan inilah aku dilahirkan. Hm, Menghirup udara dunia dengan tangisan kebahagiaan. Meski ga tahu arti tangisku pada saat itu. Katanya tangis kebahagiaan. Tapi saya yakin hari itu adalah hari yang patut ku syukuri. Karena Tuhan telah memberi kesempatan saya untuk hidup (Sampai sekarang). Alhamdulillah.

Tapi bukan ini yang hendak saya ceritakan sekarang. Tapi lebih pada makna
cerita hidup yang susah. Ha8x. Susah kok ketawa. Dunia memang udah ga waras!!!!. Ok Serius! Andai saja hidup kita analogikan sebagai rangkaian titik yang harus kita lalui, ada dimana kah kita sekarang? Titik mana yang hendak kita capai sebagai obsesi terbesar dalam hidup kita? Hingga hidup kita bisa lebih terarah dalam sikap, lebih teratur dalam ucap. Lho? Kok jadi gini terusannya? Hm... *Godeg-godeg, Geleng-geleng*

Gini sebenarnya, saya lagi mengeluh pada keadaan saya sekarang. Sepertinya hidup saya kok datar-datar aja. Aneh. Saya rindu masa SMA dulu. Saya rindu dengan kesibukan dulu, Les sampai jam 12 malam atau bahkan sampai pagi. Hingga jerawat pun tak bisa terelak lagi. Rindu dengan jerawatnya! Sibuk ini itu. Bulak-balik Ceungceum-Tasik atau Kadang Tasik-Bandung dan terbang ke Balikpapan. Hi8x. Saya rindu dengan obsesi, dengan mimpi dan motivasi. Saya Rindu Dengan Mereka! Indah.

Tapi sekarang? Entahlah... Kenapa ya?

Saturday, March 1, 2008


... Bertahun lamanya
Aku setia pada tuanku Sang Juragan. Namun kini, Aku tak lagi bertuan. Kemana Tuan ku kini? Tuan ku kini terpenjara!! Karena kata palsu yang terujar lewat kerongkongan yang ku cekik waktu itu.


Yah kenapa gak kucekik saja waktu itu sampai mati? BODOH! Andai saja tuan ku baik. Mungkin tak akan ada rakyat kini menderita, mati terlilit hutang dengan jumlah yang tak biasa. Ga waras!

Atau ungkin, penjara hanya tinggal cerita. KOSONG! Tapi sekarang? Ruaar biasa! Penjara kini penuh dengan manusia pintar mantan orang yang berdasi. Dan aku pun kini tertidur lunglai tanpa tuan. Menjadi seonggok kain tak berarti. Mati suri.