Thursday, May 22, 2008

"Kita terlalu berbeda...."

Jika seandainya ada seorang perempuan bilang seperti itu pada seorang laki-laki? Atau sebaliknya... Apa itu artinya,
"Kamu jelek dan saya tidak suka kamu..."
Atau, ... Menurut kalian seperti apa?

Monday, May 12, 2008

Samedi nuit avec Quatuor Diotima. Berbeda dari pengalaman sebelumnya ke Open House Goethe-Institut Minggu yang lalu yang datang tak dijemput pulang tak diantar tanpa berbekal tiket masuk. Kali ini dalam perhelatannya menuju Istana Negara menghadiri Pertunjukan Quatuor Diotima di Erasmus Huis banyak tiket yang kami bawa. (Maklum banyak teman yang membatalkan kehadirannya). Sangat disayangkan padahal.


Setibanya di Erasmus Huis kami telah disuguhi penggalan irama musik dari berbagai genre. Mulai dari musik elektro sampai dengan Musik klasik kontemporer. Terasa indah dengan suasana tempat yang romatis langsung bersahabat dengan kami. Damai rasanya. Kombinasi effect lighting dan irama musik yang indah telah memaksa alam bawah sadar kami untuk berkata bahwa Hidup tak selamanya penat, Indah. (Duh mendadak so puitis gini, berasa di Paris. Ha8x).

Sesuai dengan Jadwal yang tertera pada Undangan, Pertunjukan Seni Musik Kamar yang akan dimainkan Quatuor Diotima adalah pukul 19.30 WIB. Kami pun mulai antri untuk masuk ruang Auditorium, dengan tertib pastinya.

Komposisi Panggung yang sederhana. Berlatar tirai hitam legam dengan satu piano diatasnya, Elegan. Jemari Sang Pianis muda Indonesia penuh talenta memainkan tuts piano dengan sempurna. Ia adalah Randy Ryan yang telah menjuarai Lomba Internasional piano LK-CCO Mozart pada tahun 2006 di Kuala Lumpur (Mozart Piano Competition). Dalam prelude kali ini, Ia membawakan 3 lagu karya Chopin dan Debussy. Sempurna!

Waktu yang ditunggu telah tiba. Pierre Morlet dkk yang berbalut busana Hitam telah siap menampilkan perform terbaiknya. Sederhana namun tetap elegan. Seelegan musik yang dibawakannya, Klasik Kontemporer.

Pertunjukan dimulai. Senyap. Kombinasi gesekan Biola, Alto dan Cello yang dihasilkan begitu sempurna. Alunan itu telah membawa kami ke masa dan ruang yang berbeda. Auro Romantisme melekat kuat pada permainan mereka. Indah. Seindah ruangan bertemaram lampu pijar yang redup.

Pemilihan lagu-lagu yang cerdas memperkuat karakter permainan Morlet dkk. Pada pertunjukan kali ini Quatuor Diotima memainkan kuartet instrumen gesek Debussy, "Ainsi la nuit"-nya Henri Dutilleux dan quartet no 15 opus 132 Beethoven. Atas permintaan (tepuk tangan) kami pun, Quatuor Diotima rela memberi kami satu lagu tambahan. Atraktif! Bravo Quatuor Diotima!

Itulah cerita dua jam bersama Quatuor Diotima di Erasmus. Deux Heure Avec Quatuor Diotima Au Erasmus. Samedi Nuit... Tres Belle! Malam minggu yang indah.

Quatuor Diotima adalah kelompok kuartet instrumen gesek yang dimotori oleh siswa-siswa terbaik Konservatori Paris dan Lyon. Mereka adalah Naaman Sluchin & Zhao Yunpeng pada Biola, Franck Chevalier pada Alto dan terakhir Piere Morlet pada Instrumen Cello. Mereka memilih untuk mengekspresikan musik melalui suatu formasi musik kamar dengan ciri khas romantisme yang kuat.


Kelompok kuartet ini telah meraih juara pertama pada lomba FNAPEC (Lomba musik kamar Eropa) pada tahun 1999, kemudian memperoleh penghargaan pada kategori musik kontemporer yang diadakan di London pada tahun 2000.

Nama yang digunakan kuartet instrumen gesek ini merupakan bentuk penghormatan mereka kepada quatuor Luigi Nono, Fragmente Stille, an Diotima.

Bravo Quatuor Diotima!