Monday, May 12, 2008

Quatuor Diotima adalah kelompok kuartet instrumen gesek yang dimotori oleh siswa-siswa terbaik Konservatori Paris dan Lyon. Mereka adalah Naaman Sluchin & Zhao Yunpeng pada Biola, Franck Chevalier pada Alto dan terakhir Piere Morlet pada Instrumen Cello. Mereka memilih untuk mengekspresikan musik melalui suatu formasi musik kamar dengan ciri khas romantisme yang kuat.


Kelompok kuartet ini telah meraih juara pertama pada lomba FNAPEC (Lomba musik kamar Eropa) pada tahun 1999, kemudian memperoleh penghargaan pada kategori musik kontemporer yang diadakan di London pada tahun 2000.

Nama yang digunakan kuartet instrumen gesek ini merupakan bentuk penghormatan mereka kepada quatuor Luigi Nono, Fragmente Stille, an Diotima.

Bravo Quatuor Diotima!

Tuesday, May 6, 2008

Tema yang diusung dalam Open House Goethe-Institut kali ini adalah "Natürlich grün!". Yang artinya lebih kurang "Hijau, pastinya!". Ga nyangka ya kalau artinya itu? (Maklum buta Jerman). Kirain artinya bakalan kurang lebih "Hijau yang natural" atau apalah yang mendekati kata Natürlich. Hi8x...


Ok, let me start...


Sebenarnya modal nekat saja kami datang ke Open House Goethe-Institut minggu itu, 4 Mei 2008. Kami sama sekali tidak punya Eintrittskarte (Busyet gimana bacanya tuh?!) alias tiket masuk. Yah kita lihat saja nanti, bisakah Sang Rahwana membujuk Dewi Sinta? Ha8x... Dan akhirnya, Eng-Ing-Eng... Berhasil3x! (Lha kok Rahwana mirip Dora ya?). Namun sangat disayangkan kami tidak mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam Simulasi kursus gratis Goethe-Institut. Kelas sudah penuh, dan kedatangan kami pun telat. Yah tidak apa, karena kami masih ada kesempatan untuk mencoba Simulasi kursus kombinasi, On-line dan Tatap Muka. Alhamdulillah, bisa menimba ilmu juga. Saya yang buta Jerman, akhirnya bisa juga belajar sedikit (bermacam-macam) Greeting dan Introducing dalam Bahasa Jerman. Yah meski hanya sebatas ini misalnya "Grouβ Gott! Goten Abend! Ich Bin Gandhi Anwar, Ich komme aus IndonesiaLand". Ha8x... Itu doang! Itu pun belum tentu bener nulisnya. Tapi lumayan lah 'Habis gelap terbitlah terang'. Jadi minat belajar Jerman euy! :)


Selain itu, Banyak hal lain yang disuguhkan di sana. Dari mulai yang gratisan sampai yang berbayar. Dari konsultasi gratis mengenai kursus di Goethe-Institut sampai Konsultasi bagi mereka yang mau melanjutkan kuliah di Jerman. Kami pun sempat mengunjungi stand DAAD yang menawarkan beasiswa. Hm, bagaimana bisa kami melewatkan stand yang satu ini. Meski kami secara qualifikasi memang 'tidak layak'. Tapi tidak ada salahnya tahu lebih awal sebelum tahun 2010/2011 itu datang. Ha8x... (Mulai mimpi. Semoha terwujud. Amin.).


Open House Goethe-Institut kali ini pun selain menawarkan opsi; Selayang Pandang Goethe-Institu Jakarta, Kursus Bahasa Jerman (Simulasi), dan Informasi dan Perpustakaan, juga ada Acara Kebudayaan.


Acara Kebudayaan yang disajikan pun cukup eksentrik. Dari Drama teater lipsing "Rama dan Sinta", drama musical, sampai drama teater semi sungguhan yang berjudul "Teuer Du" (Mahal Kamu). Selain itu, disajikan juga 5 Sins Film pendek tentang kehidupan dan budaya Jerman. Itu semua di satu sudut panggung auditorium tertutup. Di sudut lainnya, Panggung terbuka menyajikan dentuman komposisi music yang dimainkan DJ Dillah (Wah ini bukan ya yang datang? Lupa!). Musik yang mengiringi keliaran kami mencari informasi (ilmu) dan juga mengiringi kami dalam berkontemplasi. Alah! Apaan ini. :)


Satu Pesan kami: Natürlich grün! Mari Selamatkan Bumi!

Friday, May 2, 2008

"Mengabaikan kesalahan kecil, mengundang bencana besar;
Melakukan perbaikan kecil mendatangkan keuntungan besar."

Prinsip yang diusung Michael Levine dalam bukunya 'Broken Windows; Broken Business' memberikan suatu lecutan motivasi dan inspirasi bagi setiap orang yang menginginkan menjadi juara dalam hidupnya. Para pejuang kehidupan yang harusnya memahami bahwa hidup bisnis lebih dari sekedar kerja keras membanting tulang demi uang, melainkan tuntutan kualitas hidup yang tinggi. Hidup yang "sempurna".

Dalam buku ini banyak isyarat yang dapat kita aplikasikan dalam keseharian hidup kita.

Adalah sesuatu yang mutlak untuk menjaga presepsi orang terhadap diri kita. Lakukan suatu kesalahan maka anda akan merusak presepsi orang terhadap kita dengan seketika. Dan tidak ada suatu hidup yang sempurna bila anda mengabaikan pada hal-hal yang kecil. Ini sangat berarti. Obsesi pada detail adalah suatu keharusan, tidak ada substitusinya. Namun bukan berarti kita menutup-nutupi 'kesalahan' (karena ini sebagai bagian dari proses pembelajaran) demi kesempurnaan. Tindakan menutup-nutupi hanya akan menjatuhkan diri kita. Jangan mencari-cari alasan atas kesalahan kecil atau mengingkari bahwa itu memang terjadi. Sambutlah, akui kesalahannya, dan atasi.

Semoga Bermanfaat.